BANDAR LAMPUNG — Lembaga Swadaya Masyarakat Serikat Masyarakat Lampung Anti Korupsi (SIMULASI) menyoroti dugaan penyimpangan dalam pengelolaan sejumlah kegiatan belanja di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung tahun anggaran 2024.
Ketua LSM SIMULASI, Agung Irawansyah, mengungkapkan pihaknya menemukan sejumlah kejanggalan dalam penggunaan anggaran barang dan jasa yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Ia menilai, kegiatan yang dikelola dinas terkait terindikasi tidak transparan serta berpotensi terjadi mark-up dan praktik penggandaan kegiatan.
“Kami menemukan adanya pola pengelolaan anggaran yang tidak wajar. Beberapa pos kegiatan memiliki nilai cukup besar namun tidak disertai penjelasan teknis yang jelas maupun bukti pelaksanaan di lapangan,” ujar Agung, Jumat (17/10/2025).
Berdasarkan hasil kajian dan analisis SIMULASI, sembilan kegiatan di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung yang dinilai perlu diaudit ulang antara lain:
1. Belanja alat/bahan untuk kegiatan kantor–perabot kantor TA 2024 senilai Rp643.390.000,00
2. Belanja alat/bahan untuk kegiatan kantor–bahan cetak TA 2024 senilai Rp148.209.525,00
3. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor TA 2024 senilai Rp70.000.000,00
4. Belanja modal alat rumah tangga lainnya (home use) TA 2024 senilai Rp90.000.000,00
5. Belanja perjalanan dinas paket meeting dalam kota TA 2024 senilai Rp87.600.000,00
6. Pemeliharaan alat angkutan darat bermotor (kendaraan bermotor khusus) TA 2024 senilai Rp80.000.000,00
7. Pemeliharaan bangunan gedung kantor TA 2024 senilai Rp100.000.000,00
8. Belanja alat/bahan kegiatan kantor–bahan cetak TA 2024 senilai Rp74.920.289,00
9. Belanja barang dan jasa BOK Puskesmas TA 2024 senilai Rp9.879.929.656,00
Menurut Agung, total nilai dari berbagai kegiatan tersebut mencapai lebih dari Rp11 miliar, dan perlu diaudit secara terbuka untuk memastikan tidak ada pelanggaran dalam proses pengadaan maupun realisasinya.
“Kami menduga adanya penggandaan kegiatan serta permainan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Apalagi beberapa kegiatan memiliki jenis serupa namun muncul dengan pagu berbeda. Ini jelas menimbulkan tanda tanya besar,” tegasnya.












